Udara pagi di desa yang padat penduduk selalu berbau campuran asap kayu bakar, gorengan pinggir jalan, dan embun yang membasahi dedaunan. Raina, melangkah keluar dari gang sempit,seragam putih abu-abu sedikit kusut tapi bersih sempurna. Jilbab putih Raina yang panjang tergerai seadanya, sebagian disemat dengan bros plastik. Wajah Raina, yang sering disebut orang orang ‘manis’ itu, tampak datar, memancarkan ketenangan yang nyaris dingin bagi mereka yang belum mengenalnya.
“Raina! Tungguin gue!”
Suara cempreng itu menembus hiruk-pikuk pedagang sayur dan deru motor. Raina tidak perlu menoleh. Hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan intonasi seperti itu. Olive, sahabatnya sejak SD, berlari kecil dengan tas punggung berwarna cerah yang terlihat terlalu besar di punggung mungilnya. Pipinya merona, napasnya sedikit terengah-engah.
“Kebiasaan,” Raina berhenti, langkahnya melambat sedikit. Olive tiba di sampingnya, menyikut lengannya pelan.
“lo tiap pagi kayak orang dikejar setan, Ra. Santai dikit napa,” keluhnya, sambil mengatur napas. Matanya yang bulat melirik ke arahnya, penuh tanya yang sudah ia hafal jawabannya.
“Kalau nggak buru-buru, nanti telat. Dan gue nggak suka terburu-buru di depan gerbang sekolah,” jawab Raina datar, mata tetap tertuju ke jalan di depan. Dia tahu, ketenangan adalah persiapan terbaik untuk menghadapi hari yang panjang.
Olive hanya menghela napas, lalu mulai bercerita dengan semangat tentang adiknya yang pagi tadi menumpahkan susu coklat di seragam barunya. Suaranya riang, mengisi kesunyianmu yang biasa. Raina mendengarkan, sesekali mengangguk, bibirnya hampir-hampir tidak bergerak untuk membalas senyuman kecil yang ia coba picu.
Ini ritual pagi kalian. Olive yang berwarna, Raina yang tenang. Dua sisi yang saling melengkapi di tengah desa yang ramai ini.
“Eh, tadi gue lihat si Aldi dari kelas 3 IPS lagi nongkrong di warung kopi,” ujar Olive tiba-tiba, nada suaranya berubah menjadi berbisik penuh arti. “Dia kayak lagi nungguin seseorang, nih.”
Kamu hanya mengangkat satu alis. “terus?”
“terus, kan lo lewat situ tiap pagi!” desis Olive, menyikutnya lagi.
“Jadi, menurut lo dia nungguin gue?” tanyanya, suara tetap datar, tidak ada getaran rasa penasaran atau gelisah.
“Iya, dong! Lo nih, Ra. Cewek paling cantik di angkatan kita, tapi kayak batu. Nggak pernah mau buka mata.”
Raina memalingkan muka, pandangan tertuju pada seekor kucing belang yang sedang membersihkan bulu di atas pagar. “gue buka mata, Olive. Gue cuma ngga mau ngeliat hal-hal yang nggak perlu diliat nggak penting juga .”
Olive menghela napas lagi, lebih dramatis kali ini. “Susah banget deh ngomong sama lo heran gue.”
Tapi di balik keluhannya, ada penerimaan. Ia tahu Raina bukan berarti tidak peduli. Kepedulian Raina muncul dalam bentuk lain: dalam catatan pelajaran yang rapi yang selalu ia pinjamkan, dalam hentian langkahnya yang menunggu Olive setiap pagi meski keliatan ogah-ogahan, dalam ketenangan yang menjadi tempat Olive bersandar saat dunianya yang berwarna-warni itu terasa terlalu berisik.
Saat berjalan melewati penjual bubur ayam yang ramai. Aroma sedap memenuhi udara. Olive menoleh, matanya berbinar. “lo Laper nggak, Ra.”
“Kita udah sarapan.”
“Tapi buburnya keliatan enaaak!”
“Kita bakalan telat.”
“Lima menit aja yah?”
“pleaseee”
Raina menghela napas, kali ini terdengar sedikit. Tapi kaki sudah berbelok mendekati warung. “Cepet. Ambil bungkus ga pake lama.”
Olive menyunggingkan senyum kemenangan yang lebar. Ia tahu, di balik ketenangan dan kata-kata datar sahabatnya, ada ruang hangat yang selalu terbuka untuknya. Dan Raina tahu, di tengah kesunyian pilihannya, suara cempreng dan warna-warni cerah Olive adalah penanda bahwa ia tidak sendirian.
Gerbang sekolah sudah terlihat di ujung jalan. Keriuhan siswa lain mulai terdengar.
Raina menarik napas dalam, menyiapkan diri untuk wajah datarnya yang lain. Tapi sebelum melangkah masuk, ia menoleh ke Olive yang sedang asyik menyendok bubur panas.
“Awas, jangan tumpah di tas,” gumamnya, suara masih datar, tapi ada secercah kehangatan yang hanya bisa ditangkap oleh telinga yang paling mengenalnya.
Olive hanya tersenyum, tahu bahwa itu adalah cara Raina mengatakan, “gue selalu ada buat lo.”
Dan pagi pun berlanjut, dengan aromanya yang campur aduk dan persahabatan mereka yang tak perlu banyak kata.
karya : Rahma Noviana Pratiwi (siswi 11 MPLB )
Tinggalkan Komentar