Ustadz, Bolehkah Kita Menggunakan Jasa Pawang Hujan?
Bolehkah kita menggunakan jasa pawang hujan

Bolehkah kita menggunakan jasa pawang hujan

Pertanyaan:

Assalamualaikum, Ustadz. Akhir-akhir ini lagi ramai di berita tentang keberadaan Pawang Hujan pada acara Moto GP di Mandalika. Apakah boleh memanggil pawang hujan untuk mencegah terjadinya hujan demi kelancaran sebuah acara?

Jawaban:

Bismillah, Alhamdulillah wassholatu wassalaamu alaa Rasuulillah, Wa ba’du. Menyikapi kejadian yang saat ini bisa dibilang sedang hangat-hangatnya, mengenai pawang hujan yang dianggap bisa untuk menunda/mencegah/mengusir hujan. Kita mencoba melihat dari kacamata seorang muslim yang tentu saja memiliki sandaran hukum dalam mengambil keputusan, Qur’an dan Hadis. Maka cukup jelas, bahwasanya memanggil atau mendatangkan pawang hujan untuk menolak hujan demi keberlangsungan suatu acara atau dengan berbagai alasan, biasanya menggunakan sesajen dan mantra-mantra tertentu, itu dilarang. Karena hal tersebut akan membawa yang mempercayainya ke arah kesyirikan.

 

Mari kita coba memahaminya lapisan demi lapisan, agar lebih jelas. Sebagaimana keyakinan kita, yang bisa mengatur hujan hanyalah Allah Swt semata. Bukan Mas atau Mbak siapa, bukan juga musim ataupun pawang. Haram hukumnya percaya pawang hujan atau selainnya bisa menurunkan hujan atau mencegah hujan. Karena akibatnya pun begitu mengerikan.

 

Dalam sebuah hadis, dari Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu:

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mengerjakan salat subuh di daerah Hudaibiyah bersama kami setelah turun hujan pada malam harinya. Seusai salat beliau menghadap ke para sahabat lalu bersabda: “Tahukah kalian apa yang telah difirmankan Rabb kalian? Mereka menjawab: “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.” Allah berfirman: “Pagi ini diantara hambaKu ada yang beriman kepadaku dan ada juga yang kafir. Adapun yang berkata, ‘Kami diberi hujan berkat karunia dan rahmat Allah,’ maka ia beriman kepadaKu dan kafir terhadap bintang-bintang. Sedangkan orang yang berkata, ‘Hujan turun kepada kami berkat bintang ini dan itu, maka ia telah kafir kepadaKu dan beriman kepada bintang-bintang.’ Muttafaqun ‘alaihi.

Dari hadis di atas cukup jelas bagaimana orang beriman dan orang kafir dalam menyikapi proses turunnya hujan.

Lalu, bagaimana caranya untuk mengalihkan hujan tanpa meminta bantuan pawang?

Dalam Hadis Al-Bukhari no. 1014 dikisahkan, dahulu di kota Madinah pernah dilanda hujan satu minggu berturut tanpa henti, dari hari Jum’at hingga Jum’at berikutnya. kemudian seorang sahabat datang kepada Rasulullah. la memohon agar Rasulullah berdoa agar hujan segera reda.

kemudian Rasulullah berdoa:

“Allahumma hawalayna wa la ‘alayna, Allahumma alal akami wad thirobi, wa buthunil audiyyati wa manabitis syajari”

Ya Allah turunkan hujan ini di sekitar kami jangan di atas kami. Ya Allah curahkanlah hujan ini di atas bukit-bukit, di hutan-hutan lebat, di gunung-gunung kecil, di lembah-lembah, dan tempat-tempat tumbuhnya pepohonan. (HR. Bukhari Muslim).

Rasulullah sudah mengajarkan kepada kita bagaimana bersikap ketika hujan turun dengan sangat lebat. Doa tadi bisa dibaca, tentunya dengan tata cara do’a yang baik yaitu dibarengi dengan sifat khauf dan raja’.

Hujan itu tidak selalu tentang musibah, banyak manfaat yang diperoleh oleh semua; Manusia, hewan, tumbuhan dan  alam. Tentunya itu semua adalah kehendak Allah yang patut kita syukuri. lalah Allah yang maha memiliki segala keputusan. la menurunkan hujan agar kita dapat minum dari sebagian airnya, dan sebagian lainnya menghidupi segala kehidupan. Sebagaimana dalam Q.S. An-Nahl (10):

“Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.”

Satu hal yang harus digaris bawahi, semua yang terjadi di muka bumi sebesar atau sekecil apapun itu tidak ada yang kebetulan. Bahkan daun yang jatuh dari tangkainya pun itu sudah diatur oleh Allah Swt. itulah yang harus kita Imani. Inilah bukti kebesaran Allah Azza wa jalla. Maka dari itu, pantasnya kita memohon hanya kepada Allah, berharap hanya kepada Allah, dan meyakini hanya kepada Allah. Bukan percaya, berharap dan meminta kepada yang lainnya, apalagi kepada makhluk. Waallahu a’lam bish-showwab.

Jadi, mengapa harus “ke” atau percaya pawang sedangkan kita seorang muslim yang mengaku beriman? (Ust. Haris)